Kamis, 19 Oktober 2023

Tugas 1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Disususn Oleh : Muh. Syafrudin, CGP SMP Negeri 7 Kota Semarang Jawa Tengah

 

Tugas

1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4

Disususn Oleh : Muh. Syafrudin,

CGP SMP Negeri 7 Kota Semarang  Jawa Tengah

Fasilitator : Ragil Taufik

Pengajar Praktek : Karyanto Nugroho

Format media : Artikel Dalam Blog

 

 

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan koneksi antar materi modul 1.1 tentang filosofi pemikiran ki hajar dewantara, modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, modul 1.3 tentang visi guru penggerak dan modul 1.4 tentang budaya positif. Narasi tentang koneksi antar materi ini dipandu dengan pertanyaan yang tercetak tebal sebagai pertanyaan pemantiknya. Simak dengan baik pemaparannya berikut ini:

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan. Padahal disiplin merupakan sesuatu hal yang perlu ditanamkan pada diri setiap individu.

Pada pokok bahasan lain banyak sekali informasi – informasi baru yang menyadarkan diri saya bahwa dalam mendidik anak terdapat nilai – nilai yang harus diterapkan dalam menciptakan budaya positif. Sebagi contoh pada materi posisi kontrol guru, berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. Selama ini posisi saya berada pada penghukum dan pembuat rasa bersalah. Tentunya hal ini sangat bertentangan dengan filosofi pembelajaran yang diinginkan oleh Hajar Dewantara dimana kita harus bisa memanusiakan manusia dan menuntun kodrat anak sesuai dengan zamannya. Dalam memberikan pelayanan ke siswa/ mempunishment kita sebagai guru harus bisa berada pada posisi manager, ada langkah dan tahapan yang harus kita lakukan dalam mendidik anak terkait dengan kesalahan yang mereka buat.

Hal kedua yang tak terduga selama mempelajari modul 1.4 yaitu terkait keyakinan kelas, selama ini saya hanya berpikir bahwa tidak ada suatu keyakinan namun hanya sebatas aturan kelas, ternyata dua hal tersebut merupakan sesuatu yang berbeda, keyakinan kelas merupakan suatu kesepakatan yang tidak tertulis namun dipahami oleh seluruha anggota kelas yang wajib dipatuhi tanpa perlu ada dorongan dari luar dan rasa itu muncul dari diri siswa sendiri. Pada materi segitiga restitusi kita diajarkan menyelesaikan kasus yang biasa terjadi di sekolah dengan tahapan dari menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan, dimana selama ini saya hanya langsung menjatuhkan hukuman tanpa mengikuti langkah dari segitiga restitusi tersebut.

Informasi yang saya peroleh dari modul 1.4 linier dengan pemahaman pada materi sebelumnya, dimana untuk mewujudkan pemikiran KHD dapat menerapkan informasi dalam materi budaya positif, nilai dan peran guru penggerak dapat terwujud dengan dukungan dari penerapan budaya positif.

Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Perubahan yang terjadi setelah mempelajari modul budaya positif yaitu memperbaiki kesalahan dalam mendidik murid di sekolah, kita tahu bahwa pasti setiap hari aka nada anak yang berbuat salah. Kita sebagai guru harus tau bahwa kesalahan yang diperbuat oleh anak tersebut dapat diperbaiki melalui penerapan budaya positif. Sebagai seorang pendidik harus bisa memahami kebutuhan dasar anak terlebih dahulu supaya bisa dicari akar permasalahan si anak tersebut melakukan kesalahan.

Selain itu budaya positif harus segera diterapkan karena dengan kita menerapkan budaya positif tujuan pendidikan dapat segera terwujud, tentunya hal ini harus dibarengi dengan kesadaran dari seluruh warga sekolah, poin utama pada penerapan budaya positif yaitu dimulai dari menciptkana kebiasaan positif yang akan berdampak pada terciptanya budaya positif di sekolah.

Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Pengalaman yang saya alami terkait penerapan budaya positif yaitu rasa keinginan untuk menyelesaikan suatu masalah dengan penerapan budaya positif, namun seringkali masalah tersebut berbenturan dengan aturan sekolah yang menurut pendapat saya kita tidak bisa menerapkan segitiga restitusi pada kasus – kasus tertentu. Semisal, anak yang terlibat criminal, apakah cukup dengan menerapkan segitiga restitusi? Hal inilah yang akan saya bangun dengan menyadarkan seluruh komponen warga sekolah untuk bertindak prefentif dalam menekan masalah yang timbul di sekolah. Saya berkeinginan untuk memposisikan diri sebagai manager, namun kebiasaan dan budaya disekolah saat ini masih menerapkan hukuman sebagai tindakan yang paling efektif dalam menerapkan kedisiplinan pada anak.

Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Perasaan saya selama ini dalam mendisiplinkan siswa masih berada pada tingkatan sebagai penghukum dalam posisi kontrol. Saya memiliki keinginan untuk memposisikan diri sebagai seorang manager, berusaha memperbaiki kesalahan yang sudah saya lakukan pada waktu sebelumnya. Dengan menempatkan diri sebagai seorang manager rasanya bahagia ketika kita mampu mendisiplinkan anak sesuai dengan langkah terbaik supaya siswa memiliki nilai budaya positif dari dalam dirinya, bukan bersikap disiplin karena ada stimulus atau rangsangan dari luar. Perasaan saya lebih tertantang untuk mengimplementasikan posisi sebagai pendidik sebagai menejer dan menerangkan segitiga restitusi dalam meyelesaikan beberapa kasus indisiplioner peserta didik. Karena dengan menempatkan kepada peserta didik untuk melatih mempertanggungjawabkan perilaku dan mendukung menemukan solusi atas permasalahannya.

 

Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Menurut saya sekolah saya sudah menerapkan budaya positif di sekolah, hal itu diwujudkan dengan kegiatan kegiatan budaya positif seperti apel bersama, sholat berjamaah bersama dan hal hal kolaboratif lainnya yang dapat membentuk karakter budaya positif. Hal yang perlu kembangkan lebih lanjut yaitu terkait sosialisasi nilai kebajikan yang harus dimiliki setiap anak serta keyakinan kelas, karena masih banyak guru dan murid belum memahami perbedaan keyakinan kelas dan aturan kelas. Hal yang perlu diperbaiki yaitu terkait posisi kontrol, selama ini masih berada pada posisi penghukum dan pembuat rasa bersalah, kedepan saya berkeinginan berada posisi sebagai manager dalam menyelesaikan masalah pada anak.

Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 

Sebelum saya mempelajari modul posisi kontrol, posisi saya yang sering saya terapkan ketika berinteraksi dengan siswa adalah sebagai penghukum dan pembuat rasa bersalah. Perasaan saya saat itu merasa 2 hal itu merupakan cara yang sudah benar dan terbaik karena selama ini semasa sekolah dan awal menjadi seorang guru hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang menjadi budaya. Selain itu cara yang saya terapkan kadang membuahkan hasil, terkadang gagal bahkan peristiwa yang sama terulang kembali alias bersifat sementara. Setelah mempelajari teori posisi kontrol posisi yang saya gunakan yaitu sebagi pemantau dan manager, perasaan yang saya alami yaitu saya menjadi lebih tenang, siswa lebih mudah menerima dan sadar tentang kesalahan yang dia perbuat sehingga siswa menjadi tergerak hatinya untuk berubah dari dalam dirinya sendiri, bukan dari paksaan atau rangsangan dari luar. Perbedaan yang paling menonjol yaitu tentang peristiwanya, jika kita memposisikan diri sebagai penghukum, maka perubahan siswa hanya bersifat sementara, sedangkan ketika kita memposisikan diri sebagai manager, maka siswa akan tergerak hatinya untuk berbuat dan memperbaiki kesalahan dan perubahan tersebut tidak bersifat sementara.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Sebelumnya saya sudah melakukan langkah segitiga restitusi namun tidak secara urut dan benar, dalam hal ini saya melakukan hanya sebatas memvalidasi tindakan yang salah yang dilanjutkan dengan proses menghukum, sehingga 2 langkah segitiga restitusi yang lainnya tidak dilakukan.

Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Selain filosofi Ki Hajar Dewantara, budaya positif juga berkaitan erat dengan nilai dan peran guru penggerak serta visi guru penggerak. Peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid sangat perlu dilakukan. Selain itu Peran sebagai pemimpin pembelajaran adalah memberikan lingkungan dan kondisi yang menyenangkan bagi siswa, melalui keyakinan kelas akan menciptakan lingkungan yang menyenangkan bagi siswa dalam belajar, tidak hanya berpedoman pada aturan kelas.

Hal itu terjadi karena keyakinan kelas dibuat oleh seluruh warga kelas dan disepakati secara bersama. Selain siswa lebih merasa nyaman dibandingkan dengan peraturan kelas yang penuh dengan hukuman dan sangsi. Selain melalui keyakinan kelas, restitusi dapat mendidik siswa untuk mandiri dan bertanggung jawab untuk mengatasi masalahnya sesuai dengan keyakinan sekolah yang diyakininyasudah dipahami oleh siswa. Dengan menciptakan budaya positif dimana guru berperan sebagai manajer dalam menghadapi murid, sehingga murid mampu menjadi manajer bagi dirinya sendiri. Tindakan sebagai penghukum juga harus segera ditingkatkan menjadi manager, dengan mengurangi posisi kita sebagai penghukum maka siswa akan jadi lebih nyaman dalam menjalani kegiatan belajar mengajar, selain itu budaya positif juga akan dapat mudah terlaksana jika mendapat dukungan dari semua pihak warga sekolah.

Hal lain yang perlu dipelajari adalah perlu adanya kolaborasi dalam menciptakan budaya positif di sekolah, karena budaya positif ini tidak dapat dilakukan sendirian. Budaya positif dapat dilakukan oleh warga sekolah yang positif pikirannya, positif perkataannya, dan positif tindakannya.

Demikian pemaparan tentang koneksi antar materi pada modul 1.4 Budaya Positif, selanjutnya kita akan melihat rencana aksi langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah. Rencana tersebut dituangkan  berikut ini.:

 

 

 

Rancangan Tindakan Untuk Aksi Nyata

Judul Modul            : Pembuatan Keyakinan Kelas dan Penerapan Segitiga Restitusi sebagai perwujudan budaya positif di SMP Negeri 7 Semarang

Nama Peserta          : Guru dan Karyawan SMP Negeri 7

Latar Belakang

Visi SMP Negeri 7 Semarang adalah  Berkarakter Pancasila dan Berprestasi. Dalam pembentukan karakter Pancasila yang sesuai visi tersebut harus disadari bersama membutuhkan suatu penerapan budaya positif. Budaya positif menciptakan suasana pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Untuk mewujudkannya perlu ada disiplin positif di sekolah. Salah satu cara untuk menerapkan disiplin positif adalah melalui proses pembentukan keyakinan kelas dan pelaksanaan segitiga restitusi.

 

Tujuan

  1. Terwujudnya budaya positif melalui pemahaman bersama tentang penerapan keyakinan sekolah dan keyakinan kelas sebagai wujud kesepakatan bersama.
  2. Penerapan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah murid di sekolah.
  3. Menciptakan kenyamanan belajar bagi murid dengan menerapkan posisi kontrol manager.
  4. Membangun komunikasi 2 arah dengan murid sehingga mampu mengetahui kebutuhan dasar yang dinginkan murid.

Tolok Ukur

  1. Terdapat poster keyakinan kelas, pada masing-masing kelas
  2. Guru/karyawan dapat menerapkan segitiga restitusi dalam menangani permasalahan siswa

Linimasa Tindakan yang akan dilakukan :

  1. Menyusun modul dan mendesiminasikan budaya positif kepada rekan sejawat baik guru maupun karyawan
  2. Melapor kepada kepala sekolah terkait program kerja yang ingin dicapai
  3. Menyusun rencana kerja penerapan keyakinan sekolah dan kelas serta restitusi menyusun indikator ketercapaian penerapan keyakinan sekolah/kelas dan restitusi
  4. Terdapat poster atau bagan tentang keyakinan kelas
  5. Mengevaluasi rencana program kerja dan mengevaluasi serta menyusun umpan balik  terkait program yang telah dirancang 

 

Dukungan yang dibutuhkan

  1. Dukungan dari kepala sekolah
  2. Keikutsertaan guru dan karyawan dalam menerapkan posisi kontrol dan segitiga restitusi
  3. Bekerja sama dengan karyawan bagian perlengkapan untuk program kerja yang dimulai dari deseminasi hingga penerapan di kelas
  4. Membangun komunikasi dengan seluruh warga di sekolah terkait program kerja yang telah disusun.

Terimakasih

Kamis, 28 September 2023

Kelahiran Nabi Muhammad SAW, 28 September 2023


Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam sejarah dunia Islam dan umat manusia pada umumnya. Peristiwa ini diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Berikut adalah ulasan tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW:

  1. 1. Rahmat bagi Seluruh Alam Semesta: Kelahiran Nabi Muhammad SAW dipandang sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta oleh umat Islam. Beliau diutus oleh Allah SWT untuk membimbing umat manusia menuju jalan yang benar dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan, cinta, kasih sayang, dan keadilan.

     

  2. 2. Penutup Para Nabi: Dalam keyakinan Islam, Nabi Muhammad adalah penutup para nabi. Artinya, beliau adalah nabi terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan pesan-Nya kepada umat manusia. Ajaran dan tindakan beliau menjadi pedoman bagi umat Islam dalam segala aspek kehidupan.

     

  3. 3. Teladan Hidup: Kelahiran Nabi Muhammad tidak hanya menjadi peristiwa bersejarah, tetapi juga memperkenalkan kepada dunia seorang pemimpin, guru, dan teladan yang luar biasa. Hidupnya penuh dengan ketabahan, kesabaran, dan kasih sayang terhadap sesama.

  4. Ajaran Agama Islam: Nabi Muhammad membawa ajaran Islam kepada umat manusia. Al-Quran, kitab suci Islam, adalah wahyu yang diterimanya dari Allah SWT. Ajaran-ajaran Islam yang diajarkannya mencakup tata cara ibadah, etika, hukum, dan banyak aspek kehidupan lainnya.

     

  5. 4. Kehidupan Sederhana: Nabi Muhammad hidup dengan sederhana dan merendahkan diri meskipun memiliki kekuasaan. Beliau menjadi contoh teladan tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya bersikap rendah hati, adil, dan peduli terhadap kepentingan rakyatnya

    .

  6. 5. Pengaruh Global: Ajaran dan contoh kehidupan Nabi Muhammad telah mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia selama lebih dari 1.400 tahun. Islam menjadi salah satu agama terbesar di dunia, dan pengaruh Nabi Muhammad terlihat dalam berbagai bidang, termasuk budaya, seni, ilmu pengetahuan, dan masyarakat.

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah momen untuk merenungkan ajaran-ajaran beliau, mengenang perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam, dan mencontoh sikap dan perilaku yang dibawa oleh Nabi sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat Hari Maulid Nabi Muhammad kepada umat Islam di seluruh dunia. Semoga kita semua dapat mengikuti jejak beliau menuju kebaikan dan kedamaian

 

Minggu, 24 September 2023

Workshop Tim Pengembangan Kurikulum di SMP 39 Semarang: Memperkuat Pendidikan melalui Modul Proyek dan Refleksi dalam Pembelajaran

 

Semarang, Minggu, 24 September 2023 - Pendidikan di Kota Semarang semakin ditingkatkan dengan digelarnya Workshop Tim Pengembangan Kurikulum yang diselenggarakan di SMP 39 pada Minggu, 24 September 2023. Workshop ini berhasil mengundang perhatian para pendidik yang bersemangat untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah mereka.

Pembicara pertama, Pak Asmawi, memulai workshop dengan membahas topik yang menarik, yaitu "Modul Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila". Beliau membahas bagaimana pendidikan Pancasila yang kuat dapat membentuk karakter siswa yang baik dan memberikan mereka landasan moral yang kuat. Modul proyek yang dikembangkan bertujuan untuk memperkuat pemahaman siswa tentang nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan praktis.

Pembicara kedua, Ibu Amita, membicarakan "Refleksi dalam Pembelajaran". Dalam sesi ini, Ibu Amita membagikan wawasan tentang pentingnya refleksi sebagai alat evaluasi diri dalam proses pembelajaran. Melalui refleksi, guru dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam metode pengajaran mereka, serta menyesuaikan pendekatan agar lebih efektif.

Pembicara terakhir, Pak Agus Salim, membahas "Refleksi Implementasi Kurikulum Merdeka". Beliau membagikan pengalaman dan wawasan tentang bagaimana mengadaptasi kurikulum yang lebih fleksibel dan berorientasi pada hasil. Hal ini akan membantu siswa menjadi lebih mandiri dalam pembelajaran mereka.

Tidak hanya sebagai acara pembelajaran serius, workshop ini juga memasukkan sesi "Ice Breaking" yang menarik. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kekakuan awal, memberikan kesempatan bagi peserta untuk berkenalan, dan menciptakan suasana yang lebih santai untuk belajar. Sesi ini juga bertujuan agar peserta tetap bersemangat sepanjang acara.

Workshop Tim Pengembangan Kurikulum di SMP 39 Semarang kali ini di hadiri oleh mas Ahsan selaku sekretaris dinas pendidikan kota semarang. Kegiatan ini berhasil memberikan wadah bagi pendidik untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengembangan modul proyek, refleksi dalam pembelajaran, dan implementasi kurikulum merdeka. Diharapkan acara ini akan berdampak positif pada pendidikan di Kota Semarang dan membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih inovatif dan adaptif

Workshop Tim Pengembangan Kurikulum di SMP 39 Semarang: Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Modul Ajar Berdifferensiasi dan Asesmen

 

Semarang, Sabtu, 23 September 2023 - Pendidikan di Kota Semarang terus mengalami perkembangan yang signifikan dengan diselenggarakannya Workshop Tim Pengembangan Kurikulum di SMP 39 pada Sabtu, 23 September 2023. Acara ini menarik perhatian para pendidik yang bersemangat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah mereka.

Pembicara pertama, Pak Andi Gunawan, mengambil peran penting dalam workshop ini dengan mengangkat topik "Modul Ajar Berdifferensiasi". Beliau membahas strategi untuk merancang modul ajar yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan beragam siswa. Konsep ini memiliki potensi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan menciptakan pengalaman yang lebih relevan bagi setiap siswa.

Pembicara kedua, Bapak Agus Salim sekaligus menjadi kepala smp 19 kota semarang membawakan materi tentang "Asesmen dalam Pembelajaran". Asesmen yang baik dapat membantu guru memahami perkembangan siswa dan memastikan bahwa pembelajaran berjalan dengan efektif. Bapak Agus Salim berbagi berbagai metode asesmen yang dapat digunakan oleh pendidik untuk mengukur pemahaman siswa secara komprehensif.

Pembicara terakhir, Pak Asmawi, mengupas tajuk "Literasi dan Numerasi". Literasi dan numerasi adalah keterampilan dasar yang penting dalam pendidikan. Beliau memberikan wawasan tentang bagaimana mengembangkan keterampilan literasi dan numerasi pada siswa, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan di dunia yang semakin kompleks.

Tidak hanya disajikan sebagai acara pembelajaran formal, workshop ini juga memiliki sesi "Ice Breaking" yang menarik. Tujuannya adalah untuk memberikan peserta kesempatan untuk berinteraksi, berkenalan, dan merasa lebih santai. Hal ini membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman dan mendorong kolaborasi antara peserta.

Workshop Tim Pengembangan Kurikulum di SMP 39 Semarang ini berhasil menyediakan wadah bagi pendidik untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam merancang modul ajar yang berdifferensiasi, mengelola asesmen yang efektif, dan memajukan literasi dan numerasi. Semoga acara ini akan memberikan dampak positif yang signifikan pada pendidikan di Kota Semarang

Workshop Tim Pengembangan Kurikulum SMP 5 Semarang Mengangkat Konsep Pendidikan Ramah Anak dan Komunitas Belajar

 

Semarang, Jumat, 22 September 2023 - SMP 5 Semarang menjadi tuan rumah untuk Workshop Tim Pengembangan Kurikulum yang diadakan pada Jumat, 22 September 2023. Acara yang dihadiri oleh sejumlah pendidik di Kota Semarang yaitu para ketua sub rayon semua mata pelajaran sekota semarang. Kegiatan ini menampilkan dua pembicara utama yang berkompeten di bidangnya.

Pembicara pertama, Ibu Fajri, yang merupakan perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Semarang, memaparkan tentang "Konsep Pendidikan Ramah Anak". Ibu Fajri membahas pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak-anak. Konsep ini memberikan landasan bagi pendidikan yang memperhatikan aspek-aspek psikologis, sosial, dan emosional anak dalam proses pembelajaran.

Pembicara kedua, Bapak Sujono, mengangkat topik "Komunitas Belajar di Sekolah". Dalam presentasinya, beliau menyoroti peran komunitas belajar dalam memperkuat interaksi antara guru, siswa, dan orang tua. Bapak Sujono juga menekankan betapa pentingnya kolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik di sekolah.

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Bapak Erwan Rahmat, Kabid Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Kota Semarang. Beliau mengungkapkan pentingnya pengembangan kurikulum yang berfokus pada kebutuhan siswa dan mendorong inovasi dalam pendidikan.

Workshop ini juga menjadi kesempatan bagi guru dan tenaga pendidik untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang cara meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah mereka.

Acara diakhiri dengan refleksi dari Guru Teuku Umar, yang memberikan pandangan pribadi tentang peran pendidikan dalam membentuk generasi muda yang berpotensi. Refleksi ini memberikan inspirasi dan pemikiran mendalam bagi semua peserta untuk terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan mendukung perkembangan anak-anak di Kota Semarang.

Workshop Tim Pengembangan Kurikulum di SMP 5 Semarang ini berhasil menciptakan ruang bagi para pendidik untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pendidikan ramah anak dan pentingnya komunitas belajar di sekolah, dengan harapan akan memberikan dampak positif pada pendidikan di kota in

1.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.2

 

Tugas Koneksi Antar Materi Modul 1.1 dan 1.2

Fasilitator : Ragil Taufik

Pengajar Praktek : Karyanto Nugroho

Model Refleksi 4P

(peristiwa, perasaan, pembelajaran, penerapan kedepan)

1. Peristiwa

a. Peristiwa momen yang paling penting dan mencerahkan bagi saya setelah mempelajari modul 1.1 adalah pertama saat saya mengetahui bahwa pembelajaran yang sebenarnya adalah berpihak pada murid dan guru berperan menuntun tumbuh atau hidupnya kodrat yang ada pada anak. Kedua  mendidik tidak hanya mengajar saja namun juga penumbuhan budi pekerti pada anak

b. Peristiwa momen yang paling penting bagi saya setelah mempelajari modul 1.2 adalah pertama saya harus mengimplementasikan nilai-nilai guru penggerak agar menciptakan profil pelajar Pancasila.  Kedua peran seorang guru tidak hanya dalam pembelajaran di kelas saja namun juga harus melibatkan seluruh pihak

c. Peristiwa kaitan antara modul 1.1 dan 1.2 yang saya pahami adalah bahwa filosofi KHD mengajarkan pendidikan bersifat menuntun sehingga guru sebagai pemimpin pembelajaran harus berpihak pada murid

2. Perasaan

Perasaan saat momen itu terjadi saya merasa bangun dari mimpi panjang saya harus menjadi guru yang lebih baik lagi mendidik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman serta saya harus menerapkan nilai dan peran guru penggerak

3. Pembelajaran

Pembelajaran sebelum momen itu terjadi saya berpikir bahwa murid adalah objek pembelajaran,  guru hanya bertugas mentransfer materi pelajaran saja tanpa mempedulikan pemahaman nilai-nilai karakter pembelajaran sekarang saya berpikir bahwa murid adalah subjek pembelajaran,  guru hanya fasilitator guru harus menuntun anak sesuai kodrat alam dan kodrat zaman

4. Penerapan ke depan

Penerapan ke depan adalah pertama  melakukan kegiatan pembelajaran yang melibatkan murid dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Kedua melakukan pengembangan diri secara berkelanjutan dan konsisten untuk menerapkan nilai-nilai dan peran sebagai guru penggerak

Salam dan Bahagia

Terimaksih

Semarang, 15 September 2023

CGP Angkatan 9 Asal Kota Semarang

 

Muh Syafrudin